Rasulullah Saw. bersabda:
“Islam itu dibangun di atas lima perkara, yaitu: Bersaksi tiada sesembahan yang haq kecuali Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, mengeluarkan zakat, mengerjakan haji ke Baitullah, dan berpuasa pada bulan Ramadhan.” (HR Bukhari dan Muslim)
“Islam dibangun di atas lima perkara, mengesakan Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, puasa Ramadhan, dan menunaikan haji.” (HR Muslim)
Bersyahadat bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali hanya Allah Swt. dan Nabi Muhammad Saw. adalah utusan-Nya adalah pilar pertama di dalam berislam. Keislaman seseorang selanjutnya sangat perlu untuk dibangun dengan empat pilar berikutnya, yakni mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan menunaikan ibadah haji ke tanah suci bagi yang berkuasa atau mampu. Setiap pilar dalam berislam apabila ditegakkan dengan sungguh-sungguh akan mempunyai pengaruh yang sangat dahsyat dalam kehidupan seseorang. Seseorang tidak mudah goyah, hidup menjadi lebih dinamis, dan lebih mudah dalam mencapai kesuksesan dan kebahagiaan.
Jumat, 19 November 2010
Pesan Nabi Yusuf Terlupakan Oleh Kaum Muslimin
Sura Yusuf (12) merupakan rujukan utama Kaum Muslimin untuk menabung dan berasuransi. Akan tetapi Sura Yusuf ini hanya tersosialisasi pada kaum Muslimin sebagai Sura yang dibacakan kepad Ibu Hamil supaya janinnya kelak ganteng seperti Nabi Yusuf. Namun makna yang terkandung dalam Sura Yusuf sesunggungnya banyak sekali, bukan hanya sebagai Sura yang dibacakan untuk Ibu Hamil. Dalam Sura Yusuf telah mencatat perdagangan orang, sifat diskriminasi orang tua terhadap anak, hakim yang adil, penguasa yang lalim, tabir mimpi, dan terpenting tentang menabung dan berasuransi.
Pada saat saya mengikuti training asuransi Pelatihnya bukan seorang muslim, namun ia secara cerdas dan sadar menjelaskan firman Allah dalam Sura Yusuf terutama ayat 47 dan 48. Ini mujizat Quran untuk Manusia (bukan hanya kaum Muslimin).
Sura Yusuf ayat 47, bunyinya “Yusuf berkata: “Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. Ayat 48. Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan.
Sungguh dahsyat ayat ini telah memberikan petunjuk yang pasti bahwa manusia tidak selamanya mapan, namun suatu waktu akan merasakan kesengsaraan. Hal ini dapat dianalogikan - saat sehat kita mengumpulkan semua harta, pada masa sulit merasakan jeri payah selama masa sehat.
Pertanyaannya sekarang mengapa Kaum Muslim tidak banyak menabung dan berasuransi? Jawaban sementara, belum banyak ustad yang diamanahi untuk mencerdaskan umatnya, secara sadar memperkenalkan ayat-ayat Al-Quran yang telah teruji. Selain itu…para ustad masih berkutat dengan masalah hilafiah. Yang seharusnya mereka memberikan pemahaman yang mumpuni kepada umatnya, justru mereka lebih banyak menakut-nakuti umatnya.
Masjid Corong Perbankan dan Asuransi
Sudah saatnya Masjid sebagai corong Perbankan dan Asuransi. Tidak henti-hentinya ustad Antonio Safei memperkenalkan mengenai Bank Syaria, namun upaya beliau belum banyak mendapat sukungan yang masif sampai ke daerah Perdesaan.
Ustad dan imam Masjid patut mengoreksi diri - apakah telah menjadikan Al-Quran sebagai rujukan utama dalam membangun umat? Jika belum, maka sudah saatnya untuk berubah. Selama ini Al-Quran terkenal bukan oleh Kaum Muslimin, justru oleh umat lain - lihat saja mereka yang sukses memperkenalkan Asuransi, Lebah, dan lain-lain mereka yang menjadikan Al-Quran sebagai rujukan utama, meskipun mereka tidak secara nyata menyatakan. Begitu juga, jika kita memperhatikan literatur tentang motivasi, maka sebagian besar rujukannya Al-Quran dan Al-Hadist. Itupun juga mereka tidak secara nyata menyebutkannya. Hanya mereka yang secara sadar telah menyelesaikan pembacaan Al-Quran dan Al-Hadist dapat menemukannya.
Mungkin masih segar dalam ingatan kita mengenai ”Kelapa Sawit” mengalami masa booming sekitar beberapa tahun. Para petani dan pengusaha terus memperluas lahannya, namun mereka lupa menabung dan mengantisipasi. Saat terjadinya Kelapa Sawit mengalami penurunan, petani dan pengusaha kelagapan. Intinya, mereka lupa pesan dalam Sura Yusuf (12).
Begitu juga banyak kaum Muslim yang miskin tidak dapat menyekolahkan anaknya, karena mereka belum menjadikan Al-Quran sebagai pegangan hidup, selain mereka tidak punya Quran, juga tidak bisa baca. Ini semua menjadi tanggung jawab Masjid.
Pesan Allah kepada Nabi Muhammad untuk umat Manusia Baca…Baca…Baca… Bukan hanya baca huruf tetapi semua pesan yang ada di alam.
Ayo Menabung dan Berasuransi…
Pada saat saya mengikuti training asuransi Pelatihnya bukan seorang muslim, namun ia secara cerdas dan sadar menjelaskan firman Allah dalam Sura Yusuf terutama ayat 47 dan 48. Ini mujizat Quran untuk Manusia (bukan hanya kaum Muslimin).
Sura Yusuf ayat 47, bunyinya “Yusuf berkata: “Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. Ayat 48. Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan.
Sungguh dahsyat ayat ini telah memberikan petunjuk yang pasti bahwa manusia tidak selamanya mapan, namun suatu waktu akan merasakan kesengsaraan. Hal ini dapat dianalogikan - saat sehat kita mengumpulkan semua harta, pada masa sulit merasakan jeri payah selama masa sehat.
Pertanyaannya sekarang mengapa Kaum Muslim tidak banyak menabung dan berasuransi? Jawaban sementara, belum banyak ustad yang diamanahi untuk mencerdaskan umatnya, secara sadar memperkenalkan ayat-ayat Al-Quran yang telah teruji. Selain itu…para ustad masih berkutat dengan masalah hilafiah. Yang seharusnya mereka memberikan pemahaman yang mumpuni kepada umatnya, justru mereka lebih banyak menakut-nakuti umatnya.
Masjid Corong Perbankan dan Asuransi
Sudah saatnya Masjid sebagai corong Perbankan dan Asuransi. Tidak henti-hentinya ustad Antonio Safei memperkenalkan mengenai Bank Syaria, namun upaya beliau belum banyak mendapat sukungan yang masif sampai ke daerah Perdesaan.
Ustad dan imam Masjid patut mengoreksi diri - apakah telah menjadikan Al-Quran sebagai rujukan utama dalam membangun umat? Jika belum, maka sudah saatnya untuk berubah. Selama ini Al-Quran terkenal bukan oleh Kaum Muslimin, justru oleh umat lain - lihat saja mereka yang sukses memperkenalkan Asuransi, Lebah, dan lain-lain mereka yang menjadikan Al-Quran sebagai rujukan utama, meskipun mereka tidak secara nyata menyatakan. Begitu juga, jika kita memperhatikan literatur tentang motivasi, maka sebagian besar rujukannya Al-Quran dan Al-Hadist. Itupun juga mereka tidak secara nyata menyebutkannya. Hanya mereka yang secara sadar telah menyelesaikan pembacaan Al-Quran dan Al-Hadist dapat menemukannya.
Mungkin masih segar dalam ingatan kita mengenai ”Kelapa Sawit” mengalami masa booming sekitar beberapa tahun. Para petani dan pengusaha terus memperluas lahannya, namun mereka lupa menabung dan mengantisipasi. Saat terjadinya Kelapa Sawit mengalami penurunan, petani dan pengusaha kelagapan. Intinya, mereka lupa pesan dalam Sura Yusuf (12).
Begitu juga banyak kaum Muslim yang miskin tidak dapat menyekolahkan anaknya, karena mereka belum menjadikan Al-Quran sebagai pegangan hidup, selain mereka tidak punya Quran, juga tidak bisa baca. Ini semua menjadi tanggung jawab Masjid.
Pesan Allah kepada Nabi Muhammad untuk umat Manusia Baca…Baca…Baca… Bukan hanya baca huruf tetapi semua pesan yang ada di alam.
Ayo Menabung dan Berasuransi…
Prinsip Belajar
Seperti halnya kegiatan-kegiatan lain, ternyata belajar juga mempunyai prinsip-prinsip diantaranya belajar sebagai suatu pengalaman yang terjadi di dalam diri ndividu yang diaktifkan oleh individu itu sendiri, belajar sebagai penemuan diri sendiri, belajar sebagai konsekuensi dari pengalaman, belajar sebagai proses kerja sama dan kolaborasi, belajar sebagai proses evolusi, belajar merupakan proses pemaksaan, belajar merupakan proses emosional dan intelektual, belajar bersifat indvidual dan unik.
Belajar adalah suatu pengalaman yang terjadi di dalam diri individu yang diaktifkan oleh individu itu sendiri. Artinya, belajar bukan melakukan apa yang dikatakan atau yang diperbuat oleh pengajar saja tetapi merupakan proses perubahan dalam diri pelajar sendiri untuk mau melakukan dengan kemauan sendiri apa yang dikehendaki olehnya.
Belajar adalah penemuan diri sendiri, hal ini mengandung arti belajar adalah proses penggalian ide-ide yang berhubungan dengan diri sendiri dan masyarakat sehingga pelajar dapat menentukan kebutuhan dan tujuan yang akan dicapai.
Belajar adalah konsekuensi dari pengalaman, seseorang menjadi bertanggung jawab ketika ia diserahi tanggung jawab. Ia dapat berdiri sendiri bila ia mempunyai pengalaman dan pernah berdiri sendiri. Untuk belajar yang efektif tidak cukup jika hanya memberikan informasi saja, tetapi kepada pelajar tesebut perlu diberikan pengalaman. Misalnya, diajari cara membuat kue, dengan resep yang telah tersedia kita belum tentu dapat membuat kue tersebut. Agar kita dapat membuat kue tersebut setidaknya kita harus pernah melihat dan mencoba membuatnya.
Belajar adalah proses kerja sama dan kolaborasi, pada hakikatnya manusia senang melakukan suatu hal-hal bersama-sama dan saling membantu. Dengan kerja sama, saling berinteraksi dan berdiskusi, disamping memperoleh pengalaman dari orang lain juga dapat mengembangkan pemikiran-pemikiran dan daya kreasi individu.
Belajar adalah proses evolusi, bukan revolusi karena perubahan perilaku memerluakan waktu dan kesabaran, perubahan perilaku merupakan suatu proses belajar yang membutuhkan waktu lama karena memerlukan pemikiran-pemikiran dan pertimbangan orang lain, contoh-contoh, dan mungkin pengalaman sebelum menerima atau berperilaku baru. Untuk itu diperlukan kesabaran dan ketekunan.
Belajar merupakan suatu paksaan dan terkadang menjadi proses yang menyakitkan karena menghendaki perubahan kebiasaaan yang sangat menyenagkan dan sangat berharga bagi dirinya, bahkan mungkin harus melepasakn sesuatu yang menjadi jalan hidup atua pegangan hidupnya. Untuk itu dalam memperkenalkan hal-hal baru yang menghendaki seseorang berperilaku baru sebaiknya dilakukan tidak secara drastis dan radikal. Harus berhati-hati dan sedikit demi sedikit sehingga individu mau meninggalkan perilaku lama dengan senang hati, tidak menyakitkan hati, dan tidak menimbulkan frustasi. Misalnya pada panti rehabilitasi, para pecandu narkoba dipaksa untuk belajar menghentikan penggunaan obat-obat terlarang. Dengan kesabaran, sedikit demi sedikit kebiasaan tersebut dapat hilang. Contoh lain, anak nakal yang dimasukkan ke pesantren, awalnya mungkin dia merasa tertekan, tapi lama-lama akan terbiasa.
Belajar adalah proses emosional dan intelektual, jadi belajar dipengaruhi oleh keadaan individu atau pelajar secara keseluruhan. Belajar bukan hanya proses intelektual tetapi emosi juga turut menentukan. Oleh karena itu hasil belajar sangat ditentukan situasi psikologis individu pada saat belajar. Bila seseorang sedang dalam keadaan kalut, murung, frustasi, konflik, dan tidak puas, maka jangan dibawa ke dalam suatu proses belajar karena hasilnya tidak akan memuaskan.
Belajar bersifat individual dan unik, setiap orang mempunyai gaya belajar dan keunikan yang berbeda-beda dalam belajar. Untuk itu pengajar harus menyediakan media belajar yang bermacam-macam sehingga tiap individu dapat memperoleh pengalaman belajar sesuai dengan keunikan dan gaya masing-masing.=)
Belajar adalah suatu pengalaman yang terjadi di dalam diri individu yang diaktifkan oleh individu itu sendiri. Artinya, belajar bukan melakukan apa yang dikatakan atau yang diperbuat oleh pengajar saja tetapi merupakan proses perubahan dalam diri pelajar sendiri untuk mau melakukan dengan kemauan sendiri apa yang dikehendaki olehnya.
Belajar adalah penemuan diri sendiri, hal ini mengandung arti belajar adalah proses penggalian ide-ide yang berhubungan dengan diri sendiri dan masyarakat sehingga pelajar dapat menentukan kebutuhan dan tujuan yang akan dicapai.
Belajar adalah konsekuensi dari pengalaman, seseorang menjadi bertanggung jawab ketika ia diserahi tanggung jawab. Ia dapat berdiri sendiri bila ia mempunyai pengalaman dan pernah berdiri sendiri. Untuk belajar yang efektif tidak cukup jika hanya memberikan informasi saja, tetapi kepada pelajar tesebut perlu diberikan pengalaman. Misalnya, diajari cara membuat kue, dengan resep yang telah tersedia kita belum tentu dapat membuat kue tersebut. Agar kita dapat membuat kue tersebut setidaknya kita harus pernah melihat dan mencoba membuatnya.
Belajar adalah proses kerja sama dan kolaborasi, pada hakikatnya manusia senang melakukan suatu hal-hal bersama-sama dan saling membantu. Dengan kerja sama, saling berinteraksi dan berdiskusi, disamping memperoleh pengalaman dari orang lain juga dapat mengembangkan pemikiran-pemikiran dan daya kreasi individu.
Belajar adalah proses evolusi, bukan revolusi karena perubahan perilaku memerluakan waktu dan kesabaran, perubahan perilaku merupakan suatu proses belajar yang membutuhkan waktu lama karena memerlukan pemikiran-pemikiran dan pertimbangan orang lain, contoh-contoh, dan mungkin pengalaman sebelum menerima atau berperilaku baru. Untuk itu diperlukan kesabaran dan ketekunan.
Belajar merupakan suatu paksaan dan terkadang menjadi proses yang menyakitkan karena menghendaki perubahan kebiasaaan yang sangat menyenagkan dan sangat berharga bagi dirinya, bahkan mungkin harus melepasakn sesuatu yang menjadi jalan hidup atua pegangan hidupnya. Untuk itu dalam memperkenalkan hal-hal baru yang menghendaki seseorang berperilaku baru sebaiknya dilakukan tidak secara drastis dan radikal. Harus berhati-hati dan sedikit demi sedikit sehingga individu mau meninggalkan perilaku lama dengan senang hati, tidak menyakitkan hati, dan tidak menimbulkan frustasi. Misalnya pada panti rehabilitasi, para pecandu narkoba dipaksa untuk belajar menghentikan penggunaan obat-obat terlarang. Dengan kesabaran, sedikit demi sedikit kebiasaan tersebut dapat hilang. Contoh lain, anak nakal yang dimasukkan ke pesantren, awalnya mungkin dia merasa tertekan, tapi lama-lama akan terbiasa.
Belajar adalah proses emosional dan intelektual, jadi belajar dipengaruhi oleh keadaan individu atau pelajar secara keseluruhan. Belajar bukan hanya proses intelektual tetapi emosi juga turut menentukan. Oleh karena itu hasil belajar sangat ditentukan situasi psikologis individu pada saat belajar. Bila seseorang sedang dalam keadaan kalut, murung, frustasi, konflik, dan tidak puas, maka jangan dibawa ke dalam suatu proses belajar karena hasilnya tidak akan memuaskan.
Belajar bersifat individual dan unik, setiap orang mempunyai gaya belajar dan keunikan yang berbeda-beda dalam belajar. Untuk itu pengajar harus menyediakan media belajar yang bermacam-macam sehingga tiap individu dapat memperoleh pengalaman belajar sesuai dengan keunikan dan gaya masing-masing.=)
Kecerdasan? Apa Itu?
Apa sih sebenarnya kecerdasan itu?
Orang bisa mengatakan kita cerdas/pandai dll. Tapi kebanyakan orang belum tentu tahu apa itu kecerdasan. Secara umum, kecerdasan bisa dikatakan sebagai istilah umum yang digunakan untuk menjelaskan sifat pikiran yang mencakup sejumlah kemampuan, seperti kemampuan menalar, merencanakan, memecahkan masalah, berpikir abstrak, memahami gagasan, menggunakan bahasa, dan belajar.
Klasifikasi kecerdasan
Gardner mengklasifikasikan kecerdasan sebagai berikut:
1. Naturalis
2. Kinestik tubuh
3. Linguistik
4. Logis matematik
5. Visual spasial
6. Musikal
7. Interpersonal
8. Intra personalasial
Sedangkan, menurut hasil tes IQ sebagai berikut :
Tingkat kecerdasan Deskripsi verbal Presentasi populasi dalam setiap kelompok
0-19 Idiote 1
20-49 Embisiclle
50-69 Moron 2
70-79 Inferior 6
80-89 Bodoh 15
90-109 Normal 46
110-120 Pandai 18
120-129 Superior 8
130-139 Sangat superior 3
140-179 Gifted
180> Genius 1
Faktor – factor kecerdasan
1. Faktor Bawaan
Faktor ini ditentukan oleh sifat yang dibawa sejak lahir. Ada yang bodoh, agak pintar, dan pintar sekali.
1. Faktor Minat dan Pembawaan yang Khas
Minat mengarahkan perbuatan kepada suatu tujuan dan merupakan dorongan bagi perbuatan itu. Dalam diri manusia terdapat dorongan atau motif yang mendorong manusia untuk berinteraksi dengan dunia luar, sehingga apa yang diminati oleh manusia dapat memberikan dorongan untuk berbuat lebih giat dan lebih baik.
1. Faktor Pembentukan
Pembentukan adalah segala keadaan di luar diri seseorang yang mempengaruhi perkembangan intelengensi. Di sini dapat dibedakan antara pembentukan yang direncanakan, seperti dilakukan di sekolah atau pembentukan yang tidak direncanakan, misalnya pengaruh alam sekitarnya.
1. Faktor Kematangan
Organ dalam tubuh manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Setiap organ manusia baik fisik maupun psikis, dapat dikatakan telah matang, jika ia telah tumbuh atau berkembang hingga mencapai kesanggupan menjalankan fungsinya masing-masing.
Oleh karena itu, tidak diherankan bila anak-anak belulm mampu mengerjakan atau memecahkan soal-soal matematika di kelas empat sekolah dasar, karena soal-soal itu masih terlampau sukar bagi anak. Organ tubuhnya dan fungsi jiwanya masih belum matang untuk menyelesaikan soal tersebut dan kematangan berhubungan erat dengan faktor umur.
1. Faktor Kebebasan
Hal ini berarti manusia dapat memilih metode tertentu dalam memecahkan masalah yang dihadapi. Di samping kebebasan memilih metode, juga bebas dalam memilih masalah yang sesuai dengan kebutuhannya.
Kelima faktor tersebut di atas saling mempengaruhi dan saling terkait satu dengan yang lainnya. Jadi, untuk menentukan kecerdasan seseorang, tidak dapat hanya berpedoman atau berpatokan kepada salah satu faktor saja.
Kreativitas
Dari beberapa pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa kreativitas pada intinya merupakan kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata, baik dalam bentuk cirri-ciri aptitude maupun non aptitude, baik dalam karya baru maupun kombinasi dengan hal-hal yang sudah ada, yang semuanya itu relatif berbeda dengan apa yang telah ada sebelumnya.
Faktor Kreativitas
1. Sikap social
Sikap sosial yang tidak menyenangkan harus dikurangi atau dihilangkan
1. Kondisi yang menyenangkan untuk kreatif
Semua kegiatan yang didasari atas kesenangan pasti akan menghasilkan sesuatu yang menyenagkan pula
1. Materi yang diberikan
Cara penyampaian materi harus bermacam – macam agar anak tidak bosan
1. Lingkungan keluarga dan sekolah
Selain keluarga, sekolah juga ikut berperan dalam membentuk kreativitas anak.
1. Orang tua
Orang tua sangat mempengaruhi pembentukan kreativitas anak. Mengapa? Karena sejak bayi orang tualah yang memberikan pendidikan kepada anak.
1. Pengasuhan anak
Pengasuh juga sangat berperan. Jika anak diasuh oleh pengasuh yang mempunyai pikiran kreatif, maka anak tersebut bisa ikut kreatif dan sebaliknya.
Pengembangan dalam KBM
Ø Menciptakan tugas yang dikehendaki anak
Ø KBM hendaknya dilandasi oleh rasa ingin tahu siswa.
Ø Proses pembelajaran yang dapat mengembangkan sensitivitas
Ø Kegiatan pembelajaran mengutamakan pengalaman belajar yang memberikan kelonggaran pada anak
Ø Hindari perilaku jugdmental dari guru
Ø anak bebas melakukan eksperimen.
Ø kesempatan bagi siswa untuk menentukan pilihannya sendiri.
Ø Anak anak dihadapkan kepada persoalan riil dalam kehidupan sehari hari
Orang bisa mengatakan kita cerdas/pandai dll. Tapi kebanyakan orang belum tentu tahu apa itu kecerdasan. Secara umum, kecerdasan bisa dikatakan sebagai istilah umum yang digunakan untuk menjelaskan sifat pikiran yang mencakup sejumlah kemampuan, seperti kemampuan menalar, merencanakan, memecahkan masalah, berpikir abstrak, memahami gagasan, menggunakan bahasa, dan belajar.
Klasifikasi kecerdasan
Gardner mengklasifikasikan kecerdasan sebagai berikut:
1. Naturalis
2. Kinestik tubuh
3. Linguistik
4. Logis matematik
5. Visual spasial
6. Musikal
7. Interpersonal
8. Intra personalasial
Sedangkan, menurut hasil tes IQ sebagai berikut :
Tingkat kecerdasan Deskripsi verbal Presentasi populasi dalam setiap kelompok
0-19 Idiote 1
20-49 Embisiclle
50-69 Moron 2
70-79 Inferior 6
80-89 Bodoh 15
90-109 Normal 46
110-120 Pandai 18
120-129 Superior 8
130-139 Sangat superior 3
140-179 Gifted
180> Genius 1
Faktor – factor kecerdasan
1. Faktor Bawaan
Faktor ini ditentukan oleh sifat yang dibawa sejak lahir. Ada yang bodoh, agak pintar, dan pintar sekali.
1. Faktor Minat dan Pembawaan yang Khas
Minat mengarahkan perbuatan kepada suatu tujuan dan merupakan dorongan bagi perbuatan itu. Dalam diri manusia terdapat dorongan atau motif yang mendorong manusia untuk berinteraksi dengan dunia luar, sehingga apa yang diminati oleh manusia dapat memberikan dorongan untuk berbuat lebih giat dan lebih baik.
1. Faktor Pembentukan
Pembentukan adalah segala keadaan di luar diri seseorang yang mempengaruhi perkembangan intelengensi. Di sini dapat dibedakan antara pembentukan yang direncanakan, seperti dilakukan di sekolah atau pembentukan yang tidak direncanakan, misalnya pengaruh alam sekitarnya.
1. Faktor Kematangan
Organ dalam tubuh manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Setiap organ manusia baik fisik maupun psikis, dapat dikatakan telah matang, jika ia telah tumbuh atau berkembang hingga mencapai kesanggupan menjalankan fungsinya masing-masing.
Oleh karena itu, tidak diherankan bila anak-anak belulm mampu mengerjakan atau memecahkan soal-soal matematika di kelas empat sekolah dasar, karena soal-soal itu masih terlampau sukar bagi anak. Organ tubuhnya dan fungsi jiwanya masih belum matang untuk menyelesaikan soal tersebut dan kematangan berhubungan erat dengan faktor umur.
1. Faktor Kebebasan
Hal ini berarti manusia dapat memilih metode tertentu dalam memecahkan masalah yang dihadapi. Di samping kebebasan memilih metode, juga bebas dalam memilih masalah yang sesuai dengan kebutuhannya.
Kelima faktor tersebut di atas saling mempengaruhi dan saling terkait satu dengan yang lainnya. Jadi, untuk menentukan kecerdasan seseorang, tidak dapat hanya berpedoman atau berpatokan kepada salah satu faktor saja.
Kreativitas
Dari beberapa pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa kreativitas pada intinya merupakan kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata, baik dalam bentuk cirri-ciri aptitude maupun non aptitude, baik dalam karya baru maupun kombinasi dengan hal-hal yang sudah ada, yang semuanya itu relatif berbeda dengan apa yang telah ada sebelumnya.
Faktor Kreativitas
1. Sikap social
Sikap sosial yang tidak menyenangkan harus dikurangi atau dihilangkan
1. Kondisi yang menyenangkan untuk kreatif
Semua kegiatan yang didasari atas kesenangan pasti akan menghasilkan sesuatu yang menyenagkan pula
1. Materi yang diberikan
Cara penyampaian materi harus bermacam – macam agar anak tidak bosan
1. Lingkungan keluarga dan sekolah
Selain keluarga, sekolah juga ikut berperan dalam membentuk kreativitas anak.
1. Orang tua
Orang tua sangat mempengaruhi pembentukan kreativitas anak. Mengapa? Karena sejak bayi orang tualah yang memberikan pendidikan kepada anak.
1. Pengasuhan anak
Pengasuh juga sangat berperan. Jika anak diasuh oleh pengasuh yang mempunyai pikiran kreatif, maka anak tersebut bisa ikut kreatif dan sebaliknya.
Pengembangan dalam KBM
Ø Menciptakan tugas yang dikehendaki anak
Ø KBM hendaknya dilandasi oleh rasa ingin tahu siswa.
Ø Proses pembelajaran yang dapat mengembangkan sensitivitas
Ø Kegiatan pembelajaran mengutamakan pengalaman belajar yang memberikan kelonggaran pada anak
Ø Hindari perilaku jugdmental dari guru
Ø anak bebas melakukan eksperimen.
Ø kesempatan bagi siswa untuk menentukan pilihannya sendiri.
Ø Anak anak dihadapkan kepada persoalan riil dalam kehidupan sehari hari
Rabu, 27 Oktober 2010
Perubahan Kata Baku Pada Penulisan dan Percakapan
Penggunaan Kata-Kata Baku
Masuknya kata-kata yang digunakan adalah kata-kata umum yang sudah lazim digunakan atau yang perekuensi penggunaanya cukup tinggi. Kata-kata yang belum lazim atau masih bersifat kedaerahan sebaiknya tidak digunakan, kecuali dengan pertimbangan- pertimbangan khusus. Misalnya:
Bahasa Baku Bahasa Tidak Baku
- cantik sekali - cantik banget
- lurus saja - lempeng saja
- masih kacau - masih sembraut
- uang - duit
- tidak mudah - enggak gampang
- diikat dengan kawat - diikat sama kawat
- bagaimana kabarnya - gimana kabarnya
Penggunaan Ejaan Resmi Dalam Ragam Tulisan
Ejaan yang kini berlaku dalam bahasa Indonesia adalah ejaan yang disebut ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan (singkat EyD) EyD mengatur mulai dari penggunaan huruf, penulisan kata, penulisan partikel, penulisan angka penulisan unsur serapan, sampai pada penggunaan tanda baca. Misalnya:
Bahasa Baku Bahasa Tidak Baku
- bersama-sama - bersama2
- melipatgandakan - melipat gandakan
- pergi ke pasar - pergi kepasar
- ekspres - ekspres, espres
- system – sistim
Penggunaan Lafal Baku Dalam Ragam Lisan
Hingga saat ini lafal yang benar atau baku dalam bahasa Indonesia belum pernah ditetapkan. Tetapi ada pendapat umum bahwa lafal baku dalam bahasa Indonesia adalah lafal yang bebas dari ciri-ciri lafal dialek setempat atau lafl daerah.
Misalnya:
Bahasa Baku Bahasa Tidak Baku
- atap - atep
- menggunakan - menggaken
- pendidikan - pendidi’an
- kalaw - kalo,kalo’
- habis - abis
- dengan - dengen
- subuh - subueh
- senin - senen
- mantap - mantep
- pergi - pigi
- hilang - ilang
- dalam – dalem
Masuknya kata-kata yang digunakan adalah kata-kata umum yang sudah lazim digunakan atau yang perekuensi penggunaanya cukup tinggi. Kata-kata yang belum lazim atau masih bersifat kedaerahan sebaiknya tidak digunakan, kecuali dengan pertimbangan- pertimbangan khusus. Misalnya:
Bahasa Baku Bahasa Tidak Baku
- cantik sekali - cantik banget
- lurus saja - lempeng saja
- masih kacau - masih sembraut
- uang - duit
- tidak mudah - enggak gampang
- diikat dengan kawat - diikat sama kawat
- bagaimana kabarnya - gimana kabarnya
Penggunaan Ejaan Resmi Dalam Ragam Tulisan
Ejaan yang kini berlaku dalam bahasa Indonesia adalah ejaan yang disebut ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan (singkat EyD) EyD mengatur mulai dari penggunaan huruf, penulisan kata, penulisan partikel, penulisan angka penulisan unsur serapan, sampai pada penggunaan tanda baca. Misalnya:
Bahasa Baku Bahasa Tidak Baku
- bersama-sama - bersama2
- melipatgandakan - melipat gandakan
- pergi ke pasar - pergi kepasar
- ekspres - ekspres, espres
- system – sistim
Penggunaan Lafal Baku Dalam Ragam Lisan
Hingga saat ini lafal yang benar atau baku dalam bahasa Indonesia belum pernah ditetapkan. Tetapi ada pendapat umum bahwa lafal baku dalam bahasa Indonesia adalah lafal yang bebas dari ciri-ciri lafal dialek setempat atau lafl daerah.
Misalnya:
Bahasa Baku Bahasa Tidak Baku
- atap - atep
- menggunakan - menggaken
- pendidikan - pendidi’an
- kalaw - kalo,kalo’
- habis - abis
- dengan - dengen
- subuh - subueh
- senin - senen
- mantap - mantep
- pergi - pigi
- hilang - ilang
- dalam – dalem
Rabu, 20 Oktober 2010
Langkah setan menelanjangi wanita [cewek must see]
Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuan mu dan istri-istri orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untukdikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang. QS. Al-Ahzab (33) : 59.
Setan dalam menggoda manusia memiliki berbagai macam strategi, dan yang sering dipakai adalah dengan memanfaatkan hawa nafsu, yang memang memiliki kecenderungan mengajak kepada keburukan (ammaratun bis su).Setan tahu persis kecenderungan nafsu kita, dia terus berusaha agar manusia keluar dari garis yang telah ditentukan Allah Subhanahu Wa Taala, termasuk melepaskan hijab atau pakaian muslimah. Berikut ini tahapan-tahapannya.
I. MENGHILANGKAN DEFENISI JILBAB
Dalam tahap ini setan membisikkan kepada para wanita, bahwa pakaian apapun termasuk hijab (penutup) itu tidak ada kaitannya dengan agama, ia hanya sekedar pakaian atau mode hiasan bagi para wanita. Jadi tidak ada pakaian syar i, pakaian ya pakaian, apa pun bentuk dan namanya.
Sehingga akibatnya, ketika zaman telah berubah, atau kebudayaan manusia telah berganti, maka tidak ada masalah pakaian ikut ganti juga. Demikian pula ketika seseorang berpindah dari suatu negeri ke negeri yang lain, maka harus menyesuaikan diri dengan pakaian penduduknya, apapun yang mereka pakai.
Berbeda halnya jika seorang wanita berkeyakinan, bahwa hijab adalah pakaian syar i (identitas keislaman), dan memakainya adalah ibadah bukan sekedar mode. Biarpun hidup kapan saja dan di manasaja, maka hijab syar i tetap dipertahankan.
Apabila seorang wanita masih bertahan dengan prinsip hijabnya, maka setan beralih dengan strategi yang lebih halus. Caranya ?
1. Membuka Bagian Tangan
Telapak tangan mungkin sudah terbiasa terbuka, maka setan membisik kan kepada para wanita agar ada sedikit peningkatan model yakni membuka bagian hasta (siku hingga telapak tangan). Ah tidak apa-apa, kan masih pakai jilbab dan pakai baju panjang ? Begitu bisikan setan. Dan benar sangwanita akhirnya memakai pakain model baru yang menampakkan tangannya,dan ternyata para lelaki yang melihat nya juga biasa-biasa saja. Makasetan berbisik, Tuh tidak apa-apa kan ?
2. Membuka Leher dan Dada
Setelah menampakkan tangan menjadi kebiasaan, maka datanglah setan untuk membisikkan hal baru lagi. Kini buka tangan sudah lumrah, maka perlu ada peningkatan model pakaian yang lebih maju lagi, yakni terbuka bagian atas dada kamu. Tapi jangan sebut sebagai pakaian terbuka, hanya sekedar sedikit untuk mendapatkan hawa atau udara, agar tidak gerah.Cobalah ! Orang pasti tidak akan peduli, sebab hanya bagian kecil saja yang terbuka.
Maka dipakailah pakaian model baru yang terbuka bagian leher dan dadanya dari yang model setengah lingkaran hingga yang model bentuk huruf V yang tentu menjadikan lebih terlihat lagi bagian sensitif lagi dari dadanya.
3. Berpakian Tapi Telanjang
Setan berbisik lagi, Pakaian kok hanya gitu-gitu saja, cari model atau bahanlain yang lebih bagus! Tapi apa ya ? Sang wanita bergumam....
Banyakmodel dan kain yang agak tipis, lalu bentuknya dibuat yang agak ketat biar lebih enak dipandang, setan memberi ide baru.
Maka tergodalah si wanita, di carilah model pakaian yang ketat dan kain yangtipis bahkan transparan.
Nggak apa-apa kok, kan potongan pakaiannya masih panjang, hanya bahan dan modelnya saja yang agak berbeda, biar nampak lebih feminin, begitu dia menambahkan. Walhasil pakaian tersebut akhirnya membudaya di kalangan wanita muslimah, makin hari makin bertambah ketat dan transparan, maka jadilah mereka wanita yang disebut oleh Nabi sebagai wanita kasiyat ariyat (berpakaian tetapi telanjang).
4. Agak di Buka Sedikit
Setelah para wanita muslimah mengenakan busana yang ketat, maka setan datanglagi. Dan sebagaimana biasanya dia menawarkan ide baru yang sepertinyasegar dan enak, yakni dibisiki wanita itu, Pakaian seperti ini membuatsusah berjalan atau duduk, soalnya sempit, apa nggak sebaiknya di belahhingga lutut atau mendekati paha? Dengan itu kamu akan lebih leluasa,lebih kelihatan lincah dan enerjik.
Lalu dicobalah ide baru itu,dan memang benar dengan dibelah mulai bagian bawah hingga lutut ataumendekati paha ternyata membuat lebih enak dan leluasa, terutama ketikaakan duduk atau naik ke jok mobil. Yah tersingkap sedikit nggak apa-apalah, yang penting enjoy, katanya.
Inilah tahapan awal setan merusak kaum wanita, hingga tahap ini pakaian masih tetap utuh danpanjang, hanya model, corak, potongan dan bahan saja yang dibuatberbeda dengan hijab syar i yang sebenarnya. Maka kini mulailah setanpada tahapan berikutnya.
II. TERBUKA SEDIKIT DEMI SEDIKIT
Kini setan melangkah lagi, dengan trik dan siasat lain yang lebih ampuh,tujuannya agar para wanita menampak kan bagian aurat tubuhnya.
1. Membuka Telapak Kaki dan Tumit.
Setan Berbisik kepada para wanita, Baju panjang benar-benar membuat repot,kalau hanya dengan membelah sedikit bagiannya masih kurang leluasa,lebih enak kalau di potong saja hingga atas mata kaki. Ini baru agak longgar. Oh ada yang kelupaan, kalau kamu bakai baju demikian, maka jilbab yang besar tidak cocok lagi, sekarang kamu cari jilbab yangkecil agar lebih serasi dan gaul, toh orang tetap menamakannya dengan jilbab.
Maka para wanita yang terpengaruh dengan bisikan ini buru-buru mencari model pakaian yang dimaksudkan. . Tak ketinggalan sepatu hak tinggi, yang kalau untuk berjalan mengeluarkan suara yangmenarik perhatian orang.
2. Membuka Seperempat Hingga Separuh Betis
Terbuka telapak kaki telah biasa ia lakukan, dan ternyata orang orang yang melihat juga tidak begitu peduli. Maka setan kembali berbisik, Ternyata kebanyakan manusia menyukai apa yang kamu lakukan, buktinya mereka tidak bereaksi apa-apa, kecuali hanya beberapa orang. Kalau langkahkakimu masih kurang leluasa, maka cobalah kamu cari model lain yanglebih enak, bukankah kini banyak rok setengah betis dijual di pasaran ?Tidak usah terlalu mencolok, hanya terlihat kira-kira sepuluh sentisaja. (naik sedikit) Nanti kalau sudah terbiasa, baru kamu cari modelbaru yang terbuka hingga setengah betis.
Benar-benar bisikan setan dan hawa nafsu telah menjadi penasehat pribadinya, sehingga apayang saja yang dibisikkan setan dalam jiwanya dia turuti. Maka terbiasalah dia memakai pakaian yang terlihat separuh betisnya kemana saja dia pergi.
3. Terbuka Seluruh Betis
Lihat saja model pakaian di sana-sini, dari yang diemperan hingga yang yang bermerek kenamaan, seperti Cristian Dior,semuanya menawarkan model yang dirancang khusus untuk wanita maju di zaman ini. Kalau kamu tidak mengikuti model itu akan menjadi wanita yang ketinggalan zaman.
Demikianlah, maka pakaian yang menampakkan seluruh betis biasa dia kenakan, apalagi banyak para wanita yang memakainya dan sedikit sekali orang yang mempermasalahkan itu.Kini tibalah saatnya setan melancarkan tahap terakhir dari siasatnya untuk melucuti hijab wanita.
III. SERBA MINI
etelah pakaian yang menampak kan betis menjadi pakaian sehari-hari dan dirasa biasa-biasa saja, maka datanglah bisikan setan yang lain. Pakaian membutuhkan variasi, jangan itu-itu saja, sekarang ini modelnya rok mini, dan agar serasi rambut kepala harus terbuka, sehingga benar-bena r kelihatan indah.
Maka akhirnya rok mini yang menampakkan bagian bawah paha dia pakai, bajunya pun bervariasi, ada yang terbuka hingga lengan tangan, terbuka bagian dada sekaligus bagian punggung nya dan berbagai model lain yang serba pendek dan mini. Koleksi pakaiannya sangat beraneka ragam, ada pakaian pesta, berlibur, pakaian kerja,pakaian resmi, pakaian malam, sore, musim panas, musim dingin danlain-lain.
Begitulah sesuatu yang sepertinya mustahil untuk dilakukan, ternyata kalau sudah dihiasi oleh setan, maka segalanya menjadi serba mungkin dan diterima oleh manusia.
Hingga suatu ketika, muncul ide untuk mandi di kolam renang terbuka atau mandi di pantai, di mana semua wanitanya sama, hanya dua bagian paling rawan saja yang tersisa untuk ditutupi,kemaluan dan buah dada. Mereka semua mengenakan pakaian yang sering disebut dengan bikini. Karena semuanya begitu, maka harus ikut begitu,dan na udzu billah bisikan setan berhasil, tujuannya tercapai, Menelanjangi Kaum Wanita.
Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan:
Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku, akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapatmenolongmu dan kamu pun sekali-kali tidak dapat menolongku.Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku(dengan Allah) sejak dahulu. Sesungguhnya orang-orang yang lalim itu mendapat siksaan yang pedih. QS. Ibrahim (14) : 22.
Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti:
Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami. Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan ke luar dari api neraka. QS.Al-Baqarah (2) : 167
Demikian halus, cara yang digunakan setan,sehingga manusia terjerumus dalam dosa tanpa terasa. Semoga kita tidak terjerumus godaan-godaan setan, jangan sampai kita terjerumus ke dalam kebinasaan yang menyengsarakan, baik di dunia maupun di akhirat.
Wallahua'lam bishowab.
Setan dalam menggoda manusia memiliki berbagai macam strategi, dan yang sering dipakai adalah dengan memanfaatkan hawa nafsu, yang memang memiliki kecenderungan mengajak kepada keburukan (ammaratun bis su).Setan tahu persis kecenderungan nafsu kita, dia terus berusaha agar manusia keluar dari garis yang telah ditentukan Allah Subhanahu Wa Taala, termasuk melepaskan hijab atau pakaian muslimah. Berikut ini tahapan-tahapannya.
I. MENGHILANGKAN DEFENISI JILBAB
Dalam tahap ini setan membisikkan kepada para wanita, bahwa pakaian apapun termasuk hijab (penutup) itu tidak ada kaitannya dengan agama, ia hanya sekedar pakaian atau mode hiasan bagi para wanita. Jadi tidak ada pakaian syar i, pakaian ya pakaian, apa pun bentuk dan namanya.
Sehingga akibatnya, ketika zaman telah berubah, atau kebudayaan manusia telah berganti, maka tidak ada masalah pakaian ikut ganti juga. Demikian pula ketika seseorang berpindah dari suatu negeri ke negeri yang lain, maka harus menyesuaikan diri dengan pakaian penduduknya, apapun yang mereka pakai.
Berbeda halnya jika seorang wanita berkeyakinan, bahwa hijab adalah pakaian syar i (identitas keislaman), dan memakainya adalah ibadah bukan sekedar mode. Biarpun hidup kapan saja dan di manasaja, maka hijab syar i tetap dipertahankan.
Apabila seorang wanita masih bertahan dengan prinsip hijabnya, maka setan beralih dengan strategi yang lebih halus. Caranya ?
1. Membuka Bagian Tangan
Telapak tangan mungkin sudah terbiasa terbuka, maka setan membisik kan kepada para wanita agar ada sedikit peningkatan model yakni membuka bagian hasta (siku hingga telapak tangan). Ah tidak apa-apa, kan masih pakai jilbab dan pakai baju panjang ? Begitu bisikan setan. Dan benar sangwanita akhirnya memakai pakain model baru yang menampakkan tangannya,dan ternyata para lelaki yang melihat nya juga biasa-biasa saja. Makasetan berbisik, Tuh tidak apa-apa kan ?
2. Membuka Leher dan Dada
Setelah menampakkan tangan menjadi kebiasaan, maka datanglah setan untuk membisikkan hal baru lagi. Kini buka tangan sudah lumrah, maka perlu ada peningkatan model pakaian yang lebih maju lagi, yakni terbuka bagian atas dada kamu. Tapi jangan sebut sebagai pakaian terbuka, hanya sekedar sedikit untuk mendapatkan hawa atau udara, agar tidak gerah.Cobalah ! Orang pasti tidak akan peduli, sebab hanya bagian kecil saja yang terbuka.
Maka dipakailah pakaian model baru yang terbuka bagian leher dan dadanya dari yang model setengah lingkaran hingga yang model bentuk huruf V yang tentu menjadikan lebih terlihat lagi bagian sensitif lagi dari dadanya.
3. Berpakian Tapi Telanjang
Setan berbisik lagi, Pakaian kok hanya gitu-gitu saja, cari model atau bahanlain yang lebih bagus! Tapi apa ya ? Sang wanita bergumam....
Banyakmodel dan kain yang agak tipis, lalu bentuknya dibuat yang agak ketat biar lebih enak dipandang, setan memberi ide baru.
Maka tergodalah si wanita, di carilah model pakaian yang ketat dan kain yangtipis bahkan transparan.
Nggak apa-apa kok, kan potongan pakaiannya masih panjang, hanya bahan dan modelnya saja yang agak berbeda, biar nampak lebih feminin, begitu dia menambahkan. Walhasil pakaian tersebut akhirnya membudaya di kalangan wanita muslimah, makin hari makin bertambah ketat dan transparan, maka jadilah mereka wanita yang disebut oleh Nabi sebagai wanita kasiyat ariyat (berpakaian tetapi telanjang).
4. Agak di Buka Sedikit
Setelah para wanita muslimah mengenakan busana yang ketat, maka setan datanglagi. Dan sebagaimana biasanya dia menawarkan ide baru yang sepertinyasegar dan enak, yakni dibisiki wanita itu, Pakaian seperti ini membuatsusah berjalan atau duduk, soalnya sempit, apa nggak sebaiknya di belahhingga lutut atau mendekati paha? Dengan itu kamu akan lebih leluasa,lebih kelihatan lincah dan enerjik.
Lalu dicobalah ide baru itu,dan memang benar dengan dibelah mulai bagian bawah hingga lutut ataumendekati paha ternyata membuat lebih enak dan leluasa, terutama ketikaakan duduk atau naik ke jok mobil. Yah tersingkap sedikit nggak apa-apalah, yang penting enjoy, katanya.
Inilah tahapan awal setan merusak kaum wanita, hingga tahap ini pakaian masih tetap utuh danpanjang, hanya model, corak, potongan dan bahan saja yang dibuatberbeda dengan hijab syar i yang sebenarnya. Maka kini mulailah setanpada tahapan berikutnya.
II. TERBUKA SEDIKIT DEMI SEDIKIT
Kini setan melangkah lagi, dengan trik dan siasat lain yang lebih ampuh,tujuannya agar para wanita menampak kan bagian aurat tubuhnya.
1. Membuka Telapak Kaki dan Tumit.
Setan Berbisik kepada para wanita, Baju panjang benar-benar membuat repot,kalau hanya dengan membelah sedikit bagiannya masih kurang leluasa,lebih enak kalau di potong saja hingga atas mata kaki. Ini baru agak longgar. Oh ada yang kelupaan, kalau kamu bakai baju demikian, maka jilbab yang besar tidak cocok lagi, sekarang kamu cari jilbab yangkecil agar lebih serasi dan gaul, toh orang tetap menamakannya dengan jilbab.
Maka para wanita yang terpengaruh dengan bisikan ini buru-buru mencari model pakaian yang dimaksudkan. . Tak ketinggalan sepatu hak tinggi, yang kalau untuk berjalan mengeluarkan suara yangmenarik perhatian orang.
2. Membuka Seperempat Hingga Separuh Betis
Terbuka telapak kaki telah biasa ia lakukan, dan ternyata orang orang yang melihat juga tidak begitu peduli. Maka setan kembali berbisik, Ternyata kebanyakan manusia menyukai apa yang kamu lakukan, buktinya mereka tidak bereaksi apa-apa, kecuali hanya beberapa orang. Kalau langkahkakimu masih kurang leluasa, maka cobalah kamu cari model lain yanglebih enak, bukankah kini banyak rok setengah betis dijual di pasaran ?Tidak usah terlalu mencolok, hanya terlihat kira-kira sepuluh sentisaja. (naik sedikit) Nanti kalau sudah terbiasa, baru kamu cari modelbaru yang terbuka hingga setengah betis.
Benar-benar bisikan setan dan hawa nafsu telah menjadi penasehat pribadinya, sehingga apayang saja yang dibisikkan setan dalam jiwanya dia turuti. Maka terbiasalah dia memakai pakaian yang terlihat separuh betisnya kemana saja dia pergi.
3. Terbuka Seluruh Betis
Lihat saja model pakaian di sana-sini, dari yang diemperan hingga yang yang bermerek kenamaan, seperti Cristian Dior,semuanya menawarkan model yang dirancang khusus untuk wanita maju di zaman ini. Kalau kamu tidak mengikuti model itu akan menjadi wanita yang ketinggalan zaman.
Demikianlah, maka pakaian yang menampakkan seluruh betis biasa dia kenakan, apalagi banyak para wanita yang memakainya dan sedikit sekali orang yang mempermasalahkan itu.Kini tibalah saatnya setan melancarkan tahap terakhir dari siasatnya untuk melucuti hijab wanita.
III. SERBA MINI
etelah pakaian yang menampak kan betis menjadi pakaian sehari-hari dan dirasa biasa-biasa saja, maka datanglah bisikan setan yang lain. Pakaian membutuhkan variasi, jangan itu-itu saja, sekarang ini modelnya rok mini, dan agar serasi rambut kepala harus terbuka, sehingga benar-bena r kelihatan indah.
Maka akhirnya rok mini yang menampakkan bagian bawah paha dia pakai, bajunya pun bervariasi, ada yang terbuka hingga lengan tangan, terbuka bagian dada sekaligus bagian punggung nya dan berbagai model lain yang serba pendek dan mini. Koleksi pakaiannya sangat beraneka ragam, ada pakaian pesta, berlibur, pakaian kerja,pakaian resmi, pakaian malam, sore, musim panas, musim dingin danlain-lain.
Begitulah sesuatu yang sepertinya mustahil untuk dilakukan, ternyata kalau sudah dihiasi oleh setan, maka segalanya menjadi serba mungkin dan diterima oleh manusia.
Hingga suatu ketika, muncul ide untuk mandi di kolam renang terbuka atau mandi di pantai, di mana semua wanitanya sama, hanya dua bagian paling rawan saja yang tersisa untuk ditutupi,kemaluan dan buah dada. Mereka semua mengenakan pakaian yang sering disebut dengan bikini. Karena semuanya begitu, maka harus ikut begitu,dan na udzu billah bisikan setan berhasil, tujuannya tercapai, Menelanjangi Kaum Wanita.
Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan:
Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku, akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapatmenolongmu dan kamu pun sekali-kali tidak dapat menolongku.Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku(dengan Allah) sejak dahulu. Sesungguhnya orang-orang yang lalim itu mendapat siksaan yang pedih. QS. Ibrahim (14) : 22.
Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti:
Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami. Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan ke luar dari api neraka. QS.Al-Baqarah (2) : 167
Demikian halus, cara yang digunakan setan,sehingga manusia terjerumus dalam dosa tanpa terasa. Semoga kita tidak terjerumus godaan-godaan setan, jangan sampai kita terjerumus ke dalam kebinasaan yang menyengsarakan, baik di dunia maupun di akhirat.
Wallahua'lam bishowab.
Saudagar Penipu dan Abu Nawas
Abu Nawas dan Cincin Permata
Suatu hari Abu Nawas mendapatkan hadiah berupa cincin berlian dari Sultan Harun al- Rasyid. Kepada para tetangganya, cincin itu selalu dipamerkan, bahkan ke mana pun ia pergi selalu dipakainya pada jari manis kanannya. Dari jauh cincin berlian itu tampak gemerlapan, sehingga menarik perhatian dan rasa kagum orang yang melihatnya.
Ketika Abu Nawas berjalan di depan rumah seorang saudagar permata, cincin itu memukau perhatian si saudagara. Belum pernah rasanya permata semacam itu dilihatnya. Harganya kira-kira sepuluh ribu dinar, taksirnya dalam hati.
“Hai Abu Nawas, singgahlah barang sebentar ke mari,” panggilnya dari depan pintu rumah.
Ketika Abu Nawas mendekat, saudagar itu segera menyongsongnya dengan wajah berseri-seri.
“Darimana engkau membeli cincin yang begitu bagus?” Tanya saudagar itu seraya mengamat-amati cincin permata di jari manis kanan Abu Nawas.
“Hadiah dari Baginda Sultan Harun al-Rasyid,” jawab Abu Nawas bangga.
Jawaban itu menguatkan dugaannya bahwa permata itu memang amat berharga dn bukan barang palsu.
“Aku bersedia membelinya dengan harga mahal,” bujuk saudagar itu.
Abu Nawas menggelengkan kepalanya.
“Siapa tahu cincin itu dirampas penjahat di jalan. Lebih baik kau jual saja, maka uangmu dapat kau belikan apa saja,” ujar saudagar itu menakut-nakuti. “Aku bersedia membayarmu tiga ribu dinar,” sambungnya.
Abu Nawas orang yang pandai, tak gampang terbujuk, apalagi tertipu. Ia tahu bahwa harga cincin itu kira-kira sepuluh ribu dinar. Tawaran itu didiamkannya saja. Dari saku bajunya dilkeluarkan sapu tangan, lalu digosoknya cincin itu dengan sapu tangan. Makin berkemilaulah berlian itu.
“Abu Nawas, dengarlah, modalku seluruhnya berjumlah empat ribu dinar. Baiklah seluruh uangku yang empat ribu dinar aku bayarkan kepadamu. Boleh, kan?” tawar saudagar itu.
“Mana boleh permata yang beini indah hanya ka hargai empat ribu dinar.” Sahut Abu Nawas hendak melangkah pergi.
“Tunggu dulu, Abu Nawas,” cegah saudagar itu. “jika aku punya uang lebih dari itu, akan kuberikan kepadamu semuanya. Barangkali dua-tiga hari lagi akan kubawakan engkau uang lima ribu dinar. Karena itu jangan kau jual cincinmu kepada orang lain.”
Abu Nawas hanya senyum-senyum saja, lalu pergi.
Cincin itu memang tak pernah lepas dari jari manis kanannya. Ketika tidur malam harinya pun cincin itu tetap tersunting di jari.
Malam itu Abu Nawas bermimpi. Dalam mimpi itu saudagar datang membawa uang lima ribu dinar, Melihat uang sebanyak itu abu Nawas tergiur. Tanpa pikir panjang diterimanya uang sebanyak itu, lalu diberikannya cincinnya. Begitu girang hatinya memiliki uang lima ribu dinar, lalu menari-nari, bahkan berjingkrak-jingkrak. Tangannya bertepuk-tepuk, kakinya menghentak-hentak, kepalanya bergoyang ke kiri ke kanan, pinggulnya meliuk-liuk sehingga keseimbangan badannya menjadi goyah. Tiba-tiba…,gedebuk! Abu Nawas terjatuh.
Ternyata ia terjungkal dari tempat tidur ke lantai. Ia terjaga, jidatnya terasa nyeri karena terantuk lantai. Ia tersadar dari mimpinya.
Yang pertama-tama dilakukannya ialah mengamat-amati cincin pada jari manis kanannya. “Oh, masih ada,” pikirnya. Ia merasa heran mengapa cincin itu masih tetap tersunting di jarinya, padahal uang pembayaran dari saudagar permata itu sudah diterimanya.
Esok harinya ia menceritakan mimpinya itu bukan saja kepada istrinya, tetapi juga kepada tetangga-tetangganya.Bahkan kepada semua orang yang berjumpa dengannya diceritakanlah perihal mimpinya itu. “Aku sudah menerima uang pembayaran sebanyak lima ribu dinar, tapi cincinku belum diamil oleh saudagar yang membelinya,” katanya dengan terheran-heran.
Mimpi Abu Nawas yang aneh itu segera beredar dari mulut ke mulut. Akhirnya saudagar permata itu pun mendengarnya. “Kalau begitu aku berhak mengambil cincin itu,” pikirnya. “Bukankah aku sudah membayarnya, bahkan Abu Nawas pun mengaku telah menerima uang pembayaran dariku,”
Saat itu juga ia berangkat menuju rumah Abu Nawas.
Dengan napas terengah-engah ia tiba di rumah Abu Nawas. “Abu Nawas,” ujarnya, “Mana cincin berlian yang sudah kubeli?”
“Eh,tapi…, sahut Abu Nawas tersendat.
“Jangan pura-pura lupa, Abu Nawas. Semalam aku sudah membayarmu lima ribu dinar, bukan?” kata saudagar itu sambil telunjuknya pada dada Abu Nawas.
“Ya, betul,” ujar Abu Nawas. Tapi ada dua hal yang masih harus kita sepakati. Pertama, harga lima ribu dinar itu masih terlalu murah. Genapilah jadi enam ribu dinar. Kedua, karena cincin permata itu pemberian Sultan Harun al Rasyid, serah terima cincin itu harus disaksikan pula oleh baginda. Dengan kesaksian baginda, engkaupun akan yakin bahwa cincin itu memang benar-benar pemberian Baginda,”
“Baiklah, aku tambah seribu dinar nanti, setelah Baginda mengakui cincin itu berasal pemberian baginda kepadamu,” sahut saudagar itu.
“aku berganti pakaian dulu, lantas kita berangkat bersama-sama ke istana,” kata Abu Nawas sambil masuk ke dalam kamar.
Dengan mengenakan pakaian yang paling bagus Abu Nawas menemui lagi saudagar itu. “Kita berangkat sekarang!’ ajaknya.
“Hai, mengapa jari manis kananmu kau balut dengan sapu tangan putih?” tanya saudagar seraya menunjuk jari manis kanan Abu Nawas. Jari itu tertebabt kain tebal.
Engkau memperingatkan aku kemarin agar aku berhati-hati karena penjahat yang melihat permata ini mungkin akan merampasnya,” kata Abu Nawas.
“Betul, betul,” kata saudagar itu membenarkannya. Keduanya bergegas berangkat ke istana.
Sementara itu, Sultan Harun al-Rasyid ketika itu baru saja memasuki balairung ketika kedua orang itu tiba di istana.
Baginda menunda acara perbincangan dengan para pejabat tinggi, lalu memanggil Abu Nawas dan saudagar itu agar menghadap.
“Baginda, kami bersama saudagar permata ini menghadap baginda karena ada sesusatu hal yang hendak kami sampaikan. Cincin permata hadiah dari baginda beberapa hari yang lalu kepada saya akan saya jual kepada saudagar permata ini,” kata Abu Nawas.
“Mengapa hendak kau jual?” tanya sultan dengan nada marah.
“Itu hak saya, Baginda,” jawab Abu Nawasukankah cincin ini yang elah baginda berikan sebagai hadiah kepada saya?”
Sultan terkejut melihat cincin yang tersunting di jari Abu Nawas. Lebih-lebih saudagar itu. Matanya terbelalak dan mukanya pucat seketika. Betapa tidak, cincin yang tersunting di jari manis Abu Nawas terbuat dari dari temba, sedangkan permatanya tidak bekilau sama sekali karena hanya pecahan gelas belaka.
“bukan itu yang hendak saya beli,” seru saudagar itu, “tapi cincin permata berlian pemberian baginda.”
“Inilah cincin hadiah dari Baginda itu,” kata Abu Nawas, “Kalau tidak percaya, mohonlah kesaksian Baginda.”
Dalam hati sultan tersenyum. “Macam-macam saja akal Abu Nawas,” pikirnya.
“Betulkah cincin tembaga bermata pecahan kaca itu hadiah dari Baginda kepada Abu Nawas?” sembah saudagar itu.
“Betul,” jawab Sultan. “Memang itulah cincin pemberianku.”
Saudagar itu gemetar.
“Nah, bayarlah sekarang seribu dinar seperti kesanggupanmu tadi,” kata Abu Nawas.
“Tapi…!!!???”
“Engkau harus membayar seribu dinar kepada Abu Nawa,” tukas baginda memerintahkan sauadagar itu membayarnya.
Saudagar itu terpaksa mengeluarkan uang seribu dinar. Tanpa berkata sesuatu diberikannya uang itu kpada Abu Nawas, lalu melangkah pergi.
“Hai, tunggu dulu,” seru Abu Nawas, “ini cincin permata yang sudah kau beli!”
Saudagar itu tak mau menoleh.
Suatu hari Abu Nawas mendapatkan hadiah berupa cincin berlian dari Sultan Harun al- Rasyid. Kepada para tetangganya, cincin itu selalu dipamerkan, bahkan ke mana pun ia pergi selalu dipakainya pada jari manis kanannya. Dari jauh cincin berlian itu tampak gemerlapan, sehingga menarik perhatian dan rasa kagum orang yang melihatnya.
Ketika Abu Nawas berjalan di depan rumah seorang saudagar permata, cincin itu memukau perhatian si saudagara. Belum pernah rasanya permata semacam itu dilihatnya. Harganya kira-kira sepuluh ribu dinar, taksirnya dalam hati.
“Hai Abu Nawas, singgahlah barang sebentar ke mari,” panggilnya dari depan pintu rumah.
Ketika Abu Nawas mendekat, saudagar itu segera menyongsongnya dengan wajah berseri-seri.
“Darimana engkau membeli cincin yang begitu bagus?” Tanya saudagar itu seraya mengamat-amati cincin permata di jari manis kanan Abu Nawas.
“Hadiah dari Baginda Sultan Harun al-Rasyid,” jawab Abu Nawas bangga.
Jawaban itu menguatkan dugaannya bahwa permata itu memang amat berharga dn bukan barang palsu.
“Aku bersedia membelinya dengan harga mahal,” bujuk saudagar itu.
Abu Nawas menggelengkan kepalanya.
“Siapa tahu cincin itu dirampas penjahat di jalan. Lebih baik kau jual saja, maka uangmu dapat kau belikan apa saja,” ujar saudagar itu menakut-nakuti. “Aku bersedia membayarmu tiga ribu dinar,” sambungnya.
Abu Nawas orang yang pandai, tak gampang terbujuk, apalagi tertipu. Ia tahu bahwa harga cincin itu kira-kira sepuluh ribu dinar. Tawaran itu didiamkannya saja. Dari saku bajunya dilkeluarkan sapu tangan, lalu digosoknya cincin itu dengan sapu tangan. Makin berkemilaulah berlian itu.
“Abu Nawas, dengarlah, modalku seluruhnya berjumlah empat ribu dinar. Baiklah seluruh uangku yang empat ribu dinar aku bayarkan kepadamu. Boleh, kan?” tawar saudagar itu.
“Mana boleh permata yang beini indah hanya ka hargai empat ribu dinar.” Sahut Abu Nawas hendak melangkah pergi.
“Tunggu dulu, Abu Nawas,” cegah saudagar itu. “jika aku punya uang lebih dari itu, akan kuberikan kepadamu semuanya. Barangkali dua-tiga hari lagi akan kubawakan engkau uang lima ribu dinar. Karena itu jangan kau jual cincinmu kepada orang lain.”
Abu Nawas hanya senyum-senyum saja, lalu pergi.
Cincin itu memang tak pernah lepas dari jari manis kanannya. Ketika tidur malam harinya pun cincin itu tetap tersunting di jari.
Malam itu Abu Nawas bermimpi. Dalam mimpi itu saudagar datang membawa uang lima ribu dinar, Melihat uang sebanyak itu abu Nawas tergiur. Tanpa pikir panjang diterimanya uang sebanyak itu, lalu diberikannya cincinnya. Begitu girang hatinya memiliki uang lima ribu dinar, lalu menari-nari, bahkan berjingkrak-jingkrak. Tangannya bertepuk-tepuk, kakinya menghentak-hentak, kepalanya bergoyang ke kiri ke kanan, pinggulnya meliuk-liuk sehingga keseimbangan badannya menjadi goyah. Tiba-tiba…,gedebuk! Abu Nawas terjatuh.
Ternyata ia terjungkal dari tempat tidur ke lantai. Ia terjaga, jidatnya terasa nyeri karena terantuk lantai. Ia tersadar dari mimpinya.
Yang pertama-tama dilakukannya ialah mengamat-amati cincin pada jari manis kanannya. “Oh, masih ada,” pikirnya. Ia merasa heran mengapa cincin itu masih tetap tersunting di jarinya, padahal uang pembayaran dari saudagar permata itu sudah diterimanya.
Esok harinya ia menceritakan mimpinya itu bukan saja kepada istrinya, tetapi juga kepada tetangga-tetangganya.Bahkan kepada semua orang yang berjumpa dengannya diceritakanlah perihal mimpinya itu. “Aku sudah menerima uang pembayaran sebanyak lima ribu dinar, tapi cincinku belum diamil oleh saudagar yang membelinya,” katanya dengan terheran-heran.
Mimpi Abu Nawas yang aneh itu segera beredar dari mulut ke mulut. Akhirnya saudagar permata itu pun mendengarnya. “Kalau begitu aku berhak mengambil cincin itu,” pikirnya. “Bukankah aku sudah membayarnya, bahkan Abu Nawas pun mengaku telah menerima uang pembayaran dariku,”
Saat itu juga ia berangkat menuju rumah Abu Nawas.
Dengan napas terengah-engah ia tiba di rumah Abu Nawas. “Abu Nawas,” ujarnya, “Mana cincin berlian yang sudah kubeli?”
“Eh,tapi…, sahut Abu Nawas tersendat.
“Jangan pura-pura lupa, Abu Nawas. Semalam aku sudah membayarmu lima ribu dinar, bukan?” kata saudagar itu sambil telunjuknya pada dada Abu Nawas.
“Ya, betul,” ujar Abu Nawas. Tapi ada dua hal yang masih harus kita sepakati. Pertama, harga lima ribu dinar itu masih terlalu murah. Genapilah jadi enam ribu dinar. Kedua, karena cincin permata itu pemberian Sultan Harun al Rasyid, serah terima cincin itu harus disaksikan pula oleh baginda. Dengan kesaksian baginda, engkaupun akan yakin bahwa cincin itu memang benar-benar pemberian Baginda,”
“Baiklah, aku tambah seribu dinar nanti, setelah Baginda mengakui cincin itu berasal pemberian baginda kepadamu,” sahut saudagar itu.
“aku berganti pakaian dulu, lantas kita berangkat bersama-sama ke istana,” kata Abu Nawas sambil masuk ke dalam kamar.
Dengan mengenakan pakaian yang paling bagus Abu Nawas menemui lagi saudagar itu. “Kita berangkat sekarang!’ ajaknya.
“Hai, mengapa jari manis kananmu kau balut dengan sapu tangan putih?” tanya saudagar seraya menunjuk jari manis kanan Abu Nawas. Jari itu tertebabt kain tebal.
Engkau memperingatkan aku kemarin agar aku berhati-hati karena penjahat yang melihat permata ini mungkin akan merampasnya,” kata Abu Nawas.
“Betul, betul,” kata saudagar itu membenarkannya. Keduanya bergegas berangkat ke istana.
Sementara itu, Sultan Harun al-Rasyid ketika itu baru saja memasuki balairung ketika kedua orang itu tiba di istana.
Baginda menunda acara perbincangan dengan para pejabat tinggi, lalu memanggil Abu Nawas dan saudagar itu agar menghadap.
“Baginda, kami bersama saudagar permata ini menghadap baginda karena ada sesusatu hal yang hendak kami sampaikan. Cincin permata hadiah dari baginda beberapa hari yang lalu kepada saya akan saya jual kepada saudagar permata ini,” kata Abu Nawas.
“Mengapa hendak kau jual?” tanya sultan dengan nada marah.
“Itu hak saya, Baginda,” jawab Abu Nawasukankah cincin ini yang elah baginda berikan sebagai hadiah kepada saya?”
Sultan terkejut melihat cincin yang tersunting di jari Abu Nawas. Lebih-lebih saudagar itu. Matanya terbelalak dan mukanya pucat seketika. Betapa tidak, cincin yang tersunting di jari manis Abu Nawas terbuat dari dari temba, sedangkan permatanya tidak bekilau sama sekali karena hanya pecahan gelas belaka.
“bukan itu yang hendak saya beli,” seru saudagar itu, “tapi cincin permata berlian pemberian baginda.”
“Inilah cincin hadiah dari Baginda itu,” kata Abu Nawas, “Kalau tidak percaya, mohonlah kesaksian Baginda.”
Dalam hati sultan tersenyum. “Macam-macam saja akal Abu Nawas,” pikirnya.
“Betulkah cincin tembaga bermata pecahan kaca itu hadiah dari Baginda kepada Abu Nawas?” sembah saudagar itu.
“Betul,” jawab Sultan. “Memang itulah cincin pemberianku.”
Saudagar itu gemetar.
“Nah, bayarlah sekarang seribu dinar seperti kesanggupanmu tadi,” kata Abu Nawas.
“Tapi…!!!???”
“Engkau harus membayar seribu dinar kepada Abu Nawa,” tukas baginda memerintahkan sauadagar itu membayarnya.
Saudagar itu terpaksa mengeluarkan uang seribu dinar. Tanpa berkata sesuatu diberikannya uang itu kpada Abu Nawas, lalu melangkah pergi.
“Hai, tunggu dulu,” seru Abu Nawas, “ini cincin permata yang sudah kau beli!”
Saudagar itu tak mau menoleh.
Langganan:
Postingan (Atom)